Saat
itu aku duduk di kelas enam madrasah
kalu di SMP kelas delapan dulunya
di kelasku ada dua puluh murid, tapi saat itu karena kebanyakan sekolah SMP
berubah total menjadi delapan orang di antaranya dua orang laki-laki dan enam orang
perempuan. Tapi saya pribadi walaupun sudah SMP tetap saja sekolah madrasah
karena itu sangat penting bagi saya. Di sekolah tersebut mempelajari tentang
keagamaan, dengan demikian itu bisa ditanyakan di akhirat kelak nanti.
Hari
itu di madrasahku mengadakan lomba sholawatan, lomba tersebut diadakan satu
tahun sekali, dimana pada saat bulan
maulid nabi Muhammad SAW, lombanya mendadak sekali semua murid di beri waktu
untuk berlatih dua hari, adik kelasku latihan dengan begitu juga dengan
kelasku, di lomba tersebut maksimal enam orang tidak boleh lebih, jika tidak
ikut akan di denda sebesar Rp.50.000, dan di panggil oleh nyai (selaku pengasuh
pondok pesantren sekaligus pengurus madrasah).
Saat
itu dikelasku punya fikiran untuk tidak ikut lomba, karena ada anak nyai ikut,
yakni kelas empat. Tapi itu semua tidak mungkin karena ada resikonya, dan itu
menambah permasalahan bagi kelas kami. Wali kelasku menyrankan untuk ikut saja,
siapa tahu menang. Dengan mendengarnya pembicaraan wali kelas, akhirnya kami ikut
dan bertindak untuk latihan demi kelas enam dan juga wali kelas. Semua temanku
berlatih dengan semangat begitu pula denganku. Saya sebagai vokalnya sedangkan
temanku yang lainnya sebagai kor saja
Lomba
sudah di mulai,dan anak nyai itu sudah menampilkan diri bersama teman-temannya.
Nah, selanjutnya giliran kelasku,semua teman-temanku salim ke wali kelas agar
lombanya lancer, dan saatnya saya menyanyikan sholawat bersama teman-teman.
Semua adik kelas termasuk juri memberikan tepuk tangan yang meriah,selesailah
saya menyanyi saya menunggu pengumuman kejuaraan , semua temankuu berharap
lomba tersebut benar-benar adil seadil adilnya dari juri tak mandanga anak nyai
atau siapapun.
Pengumuman
sudah di beri tahukan, dan saya tahu kalau kelas enam juara 3,kelas 2 juara
2,kelas empat juara satu. Saya kaget termasuk wali kelasku,di antara semua
kelas paling bagus adalah kelasku,semua temanku kecewa dengan semua ini karena
merasa tidak adil, nyai bilang “sudah kalian ngalah sebenarnya juara satu
memang kalian”. Ngalah si,,, ok kenapa anaknya sendiri yang juara satu kenapa
tak kelas yang lebih rendah lagi. Teman-temannkun tak mau mengambil hadiahnya
dan kami juga jerah ikut lomba karena tak satu lomba yang tak adil bahkan
hampir semua lomba yang begitu. Kami benar-benar kecewa!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!.

0 komentar:
Posting Komentar