Senin, 27 Oktober 2014

INDAH



Indahnya cinta kurasa , tetapi tak seindah yang kukira . malam semakin malam, tanpa ada dirimu disisi. ku mohon pada dirimu jangan dustai hati dan cintaku. Kasihku hanyalah dirimu , kasihku aku cinta padamu .Lembut nya embun pagi menyapa hati dan cintaku , seolah tak berhenti berharap akan cintamu. Manisnya cintamu dan indah senyum bibirmu menambah rasa cintaku kepada dirimu . dunia maya adalah awal cerita kita yang tak pernah kulupa sepanjang hidupku . perkenalan ku dengan dirinya membawa arti kebahagian dalam hidupku. Perbedaan pendapat membawa kita pada jurang kehancuran.

Maaf ini sudah menjadi keputusan ku dan harus pergi untuk kesekian kalinya , dan aku pun tak bisa berbuat apa – apa hanya kata maaf ku bisa ku ucapkan padamu.

Jujur ,kau telah melukai hati perasaanku , sehingga hidup ku kehilangan arah tujuan dan membuat suram hidupku. 

En, kenapa kau membohongi ku, apa kau tidak iba akan diriku. Maafin aku? Janji- janjimu semua palsu .
Aku sedih melihat kamu tak setia pada ku .

Walau rasa sayangku begitu besar kepada mu. tapi itu percuma ,kamu seakan tak menghiraukan aku lagi.
Malam Tahun baru 2011 adalah malam begita saklar .makna pergantian tahun . karna,ini juga termasuk sangat bermakna dalam hubungan kita bina selama ini .semua serba baru .

Kamu dimana ? loh ko , kenapa kamu pulang ke Depok sih . oya udah , kalau kamu mau malam tahun baruan bersama keponakanmu.

Bergegas aku mencoba mengecek ketempat kost an mu di bilangan Rawamangun .apa benar dia pulang ke depok atau membohongiku.

Aku gak yakin Eni pulang ke depok , rasa bimbang dan gak yakin tercurah dalam perasaan ku ini.loh ko, ternyata dia membohongi ku , ku melihat sendalnya berada ditempat kerjanya .tanpa berpikir panjang aku ketuk pintu kantornya , dia tampak kaget memandang diriku .hubungan yang terjalin selama 4 tahun dirusak oleh dia sendiri. membina hubungan begitu lama, akhirnya dia berkhianat tertangkap basah dengan rekan kerjanya sedang berdua an dalam kantor. 

Keluar kamu, dia tampak bingung memandang ku dan penuh rasa bersalah karna telah berbohong.

“Ayo, kita jalan ?
“Bergegas keluar dan meninggalkan kantor ?
“Pucat terlihat dalam raut wajahnya?

Sadar dia telah berbohong , pembicaraan selalu dialihkan .kamu kenapa bohong? Jujur ini terasa mimpi , dibohongi pasangan adalah sesuatu paling najis . Masih terasa luka oleh perilaku dia semalam , ternyata aku belum percaya 100%.

Walau pun diriku sedang libur , aku coba menyatroni tempat kost an untuk kali ke dua.rasa kepercayaan ku mulai luntur , tak kala dia tertangkap basah lagi . rekan kerjanya yang juga kenal denganku , Nampak datang ke tempat kost nya . aku gak tinggal diam, 500 menit ku mengawasi .akhirnya ku datangi kost an nya terjadi keributan , sayang tangan ku dipegang nya sehingga tak terjadi perkelahian antara hasim dan aku . merasa tertangkap basah untuk kali ke dua , dia nampak pucat terlihat diwajahnya.

Jujur dengan kejadian itu , aku benar gak bisa memaafkan dia ? rasa kepercayaan ku hilang seketika dan larut dalam kekecewaan .

Meski pun sudah hilang rasa cintaku . tetapi aku memandang dia , mungkin itu semua sesuatu ke khilaf an dan bisa diperbaiki kembali. Aku pun mencoba mengunjungi dia ke kost an nya dengan maksud main dan sekalian meminta maaf atas sikap ku yang arogan .sayang , maksud baik ku ga direspon dengan baik ,aku ditinggal sendiri di teras kost an nya.

Ku telpon ponselnya selalu di matikan ? Ku sms ga ada balasan?

Hingga akhirnya , mungkin aku harus pergi dari hati dan cintanya selamanya dan menatap esok hari yang lebih cerah. Pergi dengan perasaan galau terasa dalam hati ku . tak ada keindahan yang tercipta dunia seakan gelap menjadi gurita .

Mendengar ku tidak ada di Jakarta . dia pun mencoba menghubungi diriku 
“hallo, kamu dimana ?
Maaf , aku sudah berada di luar kota sekarang?
“eh , kenapa kamu pergi ? segera balik , saya tunggu kamu di kost an sekarang.
“maaf ga bisa , aku sudah di Jawa ?
“oya , udah kalau itu mau kamu sih?

Kegagalan dalam bercinta bukan berarti kiamat , akan tetapi kegagalan adalah sebuah pengalaman dan harus dicarikan solusinya. Hari – hari yang indah kini telah hilang. Ku coba menjalani kehidupanku dengan rasa tegar walau terkadang rasa kesepian hinggap dan selalu menghantui pikiranku.

Gambaran cerita ini mungkin sedikit dari sekian banyak cerita hidup yangbisa di jadikan renungan.sehingga kita dapat belajar tentang arti sebuah cinta .karna, setiap manusia tidak ingin gagal dalam menjalin hubungan asmara.semoga kita lebih mawas diri dan menjaga hubungan jalinan kasih dengan pasangan kita.
Sekarang antara aku dan dia tidak ada kontek ?mungkin dia sekarang sudah menjalin cinta dengan yang lain dan menghasilkan Buah cinta yang menhasilkan kasih sayang

Bukan Cerita Biasa



Cinta itu ibarat perang, berawalan dengan mudah namun sulit di akhiri.

Suatu hari, bermula dari pertemuan-pertemuan yang menyenangkan disekolah. Kebiasaan-kebiasaan ramah, saling bertatap wajah. Bercanda gurau habiskan masa-masa sekolah (dari tk, sd, smp, sampe sma) penuh suka, penuh gembira. Hingga akhirnya tercipta sebuah rasa yang dinamakan cinta.
 

Tak terasa masa-masa sekolah akan berakhir didepan mata. Masa muda yang penuh cita siap menantang dunia berupaya mengubah jalan cerita di hidupnya. Kemudian ada cinta yang merangkul rasa menemani ceria yang sebentar lagi akan berbalut luka. Karna akan berpisah selamanya.

Begini ceritanya,

Anatasha dan Reza, sejak kecil sampai remaja selalu bersama. Alasan apapun tak pernah membuat mereka berpisah. Tak pula mereka hanya sahabat saja, melainkan sejoli yang tangguh dan kokoh dalam cintanya.

Meski Reza tau Anatasha tak bisa bertahan hidup lebih lama darinya. Hal itu tak membuatnya goyah ataupun menyerah mencintai kekasihnya. Hanya saja, Reza tak kuasa menahan airmatanya manakala Anatasha memintanya pergi dan mencari pengganti dirinya yang tak sampai 1 bulan lamanya menikmati dunia.

Bukit berbunga, tepat dibelakang sekolah akan jadi saksi cinta mereka yang setia. Tempat favorit yang sering mereka kunjungi untuk mendengarkan lagu kesukaan bersama, belajar bersama, menikmati indahnya sunset yang jingga, tempat yang penuh akan kenagan manis mereka.

Itu semua akan jadi kenangan yang kemudian akan segera pudar sebagaimana tinta hitam yang melekat pada kertas putih kemudian terkena air lalu memudar dan akhirnya menghilang.
 
***

Ada pula cinta yang coba memaksa, datang menghantui Reza, memburamkan pandangannya agar Anastasha menghilang dari hatinya. Lantas cinta itu tak kuat merasuk ke hatinya hingga hilang dan berlalu begitu saja. Anatasha lah pemilik hati Reza seutuhnya. Hingga tak ada celah yang tersisa.
 

Tak sedikit air mata Reza yang tertumpah untuk Anatasha, manakala melihat tempat yang sering mereka lalui berdua hanya akan jadi kenangan.
 

Tak kalah hebat cinta Anatasha untuk Reza, korban rasa jadi hal biasa untuknya. Berpura-pura lupa telah mencinta, menyiksa hatinya demi kebohongan belaka. Hingga Reza tak terluka lagi dihatinya. Meski ceroboh tapi Anatasha melakukan yang terbaik untuk kekasihnya.

Tak terasa sampai pada waktu dimana 1 bulan kebersamaan mereka hanya tersisa 1 jam saja.

T ak banyak yang bisa dipersembahkan Reza untuk Anatasha yang waktunya hanya tersisa satu jam saja. Kemudian handphonenya berdering. Tak lama membuka handphone, airmatanya bercucuran di pipi. ‘waktu anda tersisa 1 jam’ begitulah tertulis pada catatan handphonenya. Pantas airmatanya berderai.

“Kenapa Reza menangis.”

“Aku hanya bahagia pernah berdampingan denganmu. Airmata ini sepertinya tulus keluar dari mataku,” Reza hanya tersenyum agar Anatasha tak mengkhawatirkan perasaannya.

“Meski itu bohong tapi aku bahagia mendengar ucapanmu,” tepisnya ragu perasaan Reza.

Reza hanya tersenyum. Kemudian bergerak, jalan menuju Anastasha.

“Hanya ada satu jam waktuku bersamamu, lalu apa yang kamu inginkan dariku? Apa aku harus melompat dari gedung tertinggi itu,” ujar Reza menunjuk gedung paling tinggi ditempat mereka berada, “Atau kamu mau aku menunggumu kembali?” lanjut Reza.

Airmata tulus mulai meleleh dari mata Anatasha. “Sudah saatnya cintamu diperbarui!!! Hari ini kurasa cintamu sudah sampai dibatas akhir.”

“Kalaupun kudapatkan kesempatan itu. Aku hanya ingin memperbarui cintaku dengan orang yang sama bukan dengan yang baru.”

“Bagaimana jika orang yang sama itu tiba-tiba menghilang?”

“Aku akan menunggunya kembali!!! Kapanpun aku menemukannya, aku akan mencintainya lagi. Seperti ini, iya benar-benar seperti ini.”

Anatasha menangis tanpa suara, melangkah tak bernada, kemudian bergerak, berdiri tepat membelakangi lelaki yang di cintainya.

“Waktumu hanya tersisa setengah jam. Lalu apa yang kamu inginkan dariku?”

“Gendong aku kemanapun kamu mau, kemudian bila aku diam, jangan pernah menoleh kebelakang. Jangan pernah berbalik melihatku, biarkan aku menghilang.”

“Sekali lagi aku mohon, saat aku tiada jangan pernah berbalik untuk mencariku, biarkan saja aku menghilang. Kumohon biarkan aku jadi bagian terindah dimasa lalumu. Biarkan aku tergantikan oleh orang lain.” Lanjut Anatasha terbata-bata dengan airmata yang membasahi pipinya.

“Bagaimana kubisa lakukan itu? Sementara sebentar saja aku tak melihatmu, aku berlari mencarimu. Mungkinkah aku bisa membiarkanmu pergi untuk selamanya? Aku tak akan menemukanmu lagi meski aku berlari lebih cepat dari biasanya.”
 

“Sebelum bertemu denganmu, aku hanya punya lem dan benang ditepian hatiku. Kemudian kamu datang merajut hatiku dengan benang itu, dan kamu kuatkan rajutan itu dengan lemnya. Lantas, bagaimana ia akan terbuka lagi?” lanjut Reza dengan airmata yang perlahan menetes.

“Biarkan ia sampai mengeras, tak lama ia akan pecah. Kemudian ada celah yang terbuka disana. Perlahan benangnya akan putus karna rapuh. Lalu ia sepenuhnya akan terbuka.”

“Tidak….! Jika benangnya putus dan hatiku terbuka, aku akan merajutnya kembali, meski itu menyakitkan. Tapi aku akan melakukannya.”

“Biarkan saja ia terbuka.” Suara Anatasha mulai letih, matanya terpejam. Tak lama badannya memberat.
 

Akhirnya, cinta mereka berhenti pada masa yang berbahagia. Dimana mereka saling tau apa yang dirasa, meski airmata yang jadi saksinya. Cukup yang dicinta tau apa yang di rasa, itu sudah cukup untuk bahagia.



True love


True love

ini kisah cinta tentang seorang gadis cantik yang buta dan si tampan yang tuli. Tuhan mempertemukan mereka di sebuah taman saat cuaca mendung yang berakhir hujan deras. Hingga pertemuan mereka berlanjut dan memulai sebuah kisah cinta yang rumit. Mereka harus berkorban dan memperjuangkan cinta mereka walaupun mereka memiliki kekurangan masing-masing. Bagaimanakah akhir kisah mereka?
~ Prolog ~
Kita tidak seperti mereka. Kita memiliki keterbatasan untuk berkomunikasi, kau yang tidak bisa mendengar suara lembutku dan aku yang tidak bisa melihat wajah tampanmu. Tapi kita yakin dan percaya, ketulusan cinta ini yang telah membawa cinta kita pada sebuah cinta sejati..
Namaku A-Chen, usiaku kini beranjak 23 tahun. Aku bukanlah seorang gadis remaja lagi. Ketika usiaku masih 12 tahun aku layaknya anak-anak normal, dengan penglihatan mata yang sempurna, aku bisa melihat wajah ibuku yang cantik dan ayahku bentuk wajahnya yang bulat dengan hidungnya yang begitu mancung, dan kakakku yang cantik, dia adalah bunga di kampusnya saat itu. Tapi, setelah aku berumur 17 tahun, saat aku pulang sekolah, tepatnya waktu itu aku dan teman-temanku bercanda tentang guru fisika kami yang killer, dan peristiwa yang tidak aku inginkan terjadi. Aku kecelakaan, sebuah truk kecil menabrak tubuhku dan aku terhempas, saat itu aku tidak tahu bagaimana hidupku saat itu, hingga satu bulan kemudian aku terbangun, ternyata setelah kecelakaan itu aku koma. Tapi, ada apa dengan mataku? Mengapa semuanya terlihat gelap? Aku menjerit, ibu memberitahuku bahwaaku kehilangan penglihatan normalku. Aku buta.
Di masa remaja yang seharusnya begitu indah kulalui dengan mata yang sempurna, kini hanya kegelapan yang kurasakan. Hanya sebuah tongkat yang membantuku berjalan dan merasakan langkahku. Sesungguhnya aku tidak bisa terima kenyataan ini, apalgi teman teman ku menjauhiku. Pacarku, Han Goh, kami pernah berjanji apapun yang terjadi pada diri kami, kami akan tetap bersama, tetapi kenyataannya dia menjauh hanya karena aku buta. Kini, Aku sendiri. Sepi.
Angin sepoi terasa di kulitku. Aku menggenggam walkman yang selalu aku bawa kemana pun aku pergi. Dengan tongkat yang selalu ku pegang untuk memberi petunjuk langkahku. Sore yang sedikit mendung ini, kupaksakan untuk berjalan menuju taman kota yang tidak jauh dari komplek tempat tinggalku. Aku senang merasakan angin sore seperti ini.
Kupasangkan sebuah headset di kupingku, kuputar sebuah lagu klasik. Kurasakan setiap melody yang mengalir pada lagu klasik ini.
Air hujan menetes perlahan membasahi kulitku yang putih. Derapan langkah kaki orang-orang di taman terdengar di kupingku. Hujan deras nyaring sekali terdengar. Mereka semua sibuk berlari untuk mencari tempat berteduh. Aku lepaskan hedset dari telingaku. Aku bingung dan kehilangan akal. Sebuah genggaman lembut tangan seseorang mengagetkanku. Dia menarik tanganku, aku takut. Aku takut ada orang jahat mencoba memanfaatkan situasi seperti ini.
“Kau siapaa?!!” Tanyaku dengan nada cemas. Tidak ada jawaban. Tangannya tidak terlepas dari tanganku.
“Hey!! Kau orang jahat yang ingin mencoba menculikku?”
Hening, hanya suara hujan yang kudengar. Pegangan tangan itu menuntunku pada suatu tempat yang aku tidak tahu, tetapi tidak kurasakan lagi hujan mengalir di kulitku.
“Dimana ini? Beritahu aku!!! Atau aku akan teriak!!”
“Aku bukan orang jahat, aku hanya mengajakmu untuk berteduh” suaranya sangat tidak jelas dan aku tidak begitu mengeti dengan perkataannya.
“Apa Kau tidak bisa berbicara dengan jelas, huh?” Ujarku dengan nada yang menekan.
“Kak Sin Hui, disini kau rupanyaa.. Ini coke buatmu!!” Terdengar suara gadis yang kuperkirakan umurnya mungkin sebelas tahun, Sin Hui? Nama lelaki ini Sin Hui?
“Dia siapa, kak?” Tanya gadis itu lagi.
Gadis itu mendekatiku dan membisikkan sesuatu padaku. “Maaf, kakakku tidak bisa menjawab pertanyaanmu. Dia tuli. Kakakku bukan orang jahat, dia hanya ingin membantumu berteduh, aku hanya menyampaikan pesan kakakku yang ditulisnya tadi.”
Lelaki itu tuli. Aku merasa bersalah dengan ucapanku yang sedikit kasar seperti tadi.
“Bilang pada kakakmu, aku minta maaf atas sikapku yang tadi dan aku berterimakasih atas kebaikan kakakmu padaku.” Ucapku lembut pada gadis itu.
“Baiklah, akan kusampaikan..”
“Namaku A-chen.”
“Aku Lie Hua. Kakakku ini namanya Sin Hui.”
Sebuah taksi berhenti di depan kami.
“Kau mau ikut dengan kami? Aku akan meminta pak sopir untuk menuju rumahmu..”
Aku menganggukan kepala.
“Kita sudah sampai di rumahmu. Perlu aku bantu?”
“Tidak perlu. Terima kasih.” Aku membuka pintu mobil perlahan.
Aku berjalan menuju pagar rumah.
“Hey!! Kakakku bilang dia ingin bertemu denganmu lagi besok sore di taman tadi. Kuharap kau memenuhi permintaannya..” Teriak gadis itu. Aku menganggukan kepala, tapi aku tidak janji.. gumamku lirih.
Aku duduk di taman di tempat yang sama dan jam yang sama. Hari ini aku penuhi janjiku pada lelaki semalam itu. Mana dia? Aku belum merasakan kehadirannya. Dep! sepertinya dia datang, aku bisa merasakan kehadirannya karena wangi parfumnya sama seperti wangi parfum yang kurasakan semalam saat dia menggenggan tanganku.
“Apa itu kau sin Hui?” Tanyaku perlahan
“I.. ya..” Suara samar nya (suara penderita tuli saat memaksakan untuk berbicara).
“Terima kasih karena sudah datang, aku ingin mengenalmu lagi..” Sambungnya lagi, sepertinya dia mengulurkan tangannya padaku, aku sentuh perlahan permukaan kulit tangannya. Aku jabat tangannya. Aku memberi senyumku untuknya. Dan aku yakin dia juga membalas senyumanku itu.
“Aku sangat senang bertemu dengan gadis secantik kamu..” Lirihnyaa
Aku menganggukan kepalaku.
Tiba-tiba saja Jantungku terasa lebih cepat berdetak dari biasanya, dan darahku mendesir hebat. Kemudian aku merasakan sentuhan tangan di ubun-ubun kepalaku, lembut sekali sentuhannya itu. Aku semakin merasa grogi yang hebat. Sudah lama aku tidak merasakan perasaan seperti ini lagi sejak Han Goh tidak mempedulikanku dan menjauhi dariku yang membuat kami harus berpisah.
Kini tangannya jatuh pada telapak tanganku, digenggamnya perlahan. Entah mengapa aku tidak menolaknya.
Kemudian dia melepaskannya. “Maaf..” Ucapnya. Aku hanya tersenyum simpul.
Sejak hari itu, di hari-hariku aku selalu membayangkan sosok Sin Hui. Aku tidak tahu bagaimana wajahnya. Tapi aku yakin dia lelaki yang tampan, karena yang kutahu dia adalah lelaki yang lembut. Dia sangat lembut memperlakukanku. Mungkin aku telah jatuh cinta pada lelaki itu. Aku merasa bahagia bila dia duduk di sampingku. setiap hari, tepatnya sore hari. Karena Sin Hui selalu datang disaat itu. Orangtuaku juga melihat perbedaan yang jauh sebelum dan setelah aku bertemu dengannya. Aku lebih sering menyisir rambut panjangku, dan kata ibu aku lebih ceria daripada biasanya.
Aku duduk di taman seperti biasa, aku menunggu seseorang. Tepatnya, Sin Hui. Mungkin aku sudah menunggunya setengah jam yang lalu. Aku harus sabar menunggunya, aku yakin dia pasti datang.
Drepp.. Suara derit bangku taman, itu pasti Sin Hui. Benarkan kataku dia pasti datang..
“Kau itu Sin Hui..” Kataku dengan suara lembut.
“Aku bukan Sin Hui, aku Yen tzu.” Jawabnya.
Tersirat kekecewaan di hatiku. Ternyata yang datang bukan Sin Hui. Yen Tzu? Dia… gumamku
“Yen Tzu? Kau…”
“Iya, aku teman smp kau dulu. Apa kabar? Kau terlihat lebih cantik sekarang..” Ujarnya. “Aku baik, bagaimana denganmu?”
“Yah seperti ini, kau tiap hari datang duduk disini?”
Aku menganggukan kepalaku. Dia diam. “Mau ku traktir makan mie di kedai mie kho huan? Tidak jauh dari taman ini, aku yakin kau tidak akan kecewa mencoba mie satu itu..”
“Benar ya, kau yang traktir aku..” Ujarku sambil tertawa pelan.
Yen Tzu, dia adalah teman satu kelasku saat aku smp. Aku pernah menyukainya selama smp. Dan dia juga tahu bahwa aku menyukainya saat itu, tapi cintaku ini bertepuk sebelah tangan karena Yen tzu telah memiliki Huang Shin murid dari kelas 8-1.
“Bagaimana? Rasanya enak kan?” Tanya nya saat aku terlihat sangat menikmati mie di kedai mie Kho Huan.
“Iyaa kau benar, aku belum pernah merasakan makan mi selezat ini..”
“Aku senang melihat kau bahagia seperti ini..” Ujarnya pelan.
Meskipun aku sangat menikmati mie seenak ini, rasanya kurang bila tanpa Sin Hui di sampingku. Aku merindukannya. Tumben, dia tidak menemuiku sore ini. Sin Hui kau dimanaa.. desisku lirih.
Rambutku terhembus angin, cuaca hari ini kurasakan mendung. Sejuk dan lembab. Kuharap tidak hujan, dan aku harap dia datang. Ku mohon..
“Hai cantik..”
“Sin Hui…”
Hening. “Aku bukan Sin hui. Aku Yen tzu.. Aku ingin berbicara penting denganmu..” Ucap Yen tzu perlahan.
“Apa? Katakan saja..”
Yen tzu memegang lengan tanganku, dan satu lagi menggenggam tangan kananku.
“Aku menyukaimu, sebenarnya sudah lama aku memendam rasa itu. Tapi, sejak karena aku tahu aku masih dimiliki Huang Shin, tidak mungkin aku membalas perasaanmu itu. Kemudian, aku harus berpisah dengannya saat keluargaku harus pindah ke Indonesia untuk bekerja disana. Kau tahu, aku selalu memikirkan dirimu. Dan aku berjanji saat aku kembali ke Taipei aku akan mengatakan padamu kalo aku menyukaimu..” ungkap Yen tzu panjang lebar yang membuat aku terdiam kaku. “Bagaimana?”
“Sin Hui..” Aku merasakan Sin Hui datang, karena aku merasakan aroma parfumnya. Derap kaki langkah yang dipercepat terdengar jelas di kupingku. Mungkinkah Sin Hui melihat Yen Tzu dan aku? Astaga, dia pasti salah paham..
Belum sampai aku menjawab pertanyaan Yen tzu, aku langsung bangkit dan mengambil tongkat. Aku harus mengejar Sin Hui. Aku tidak peduli dengan kekuranganku ini. Yang aku tahu aku harus menjelaskan kesalahpahaman ini padanya.
“Sin Hui!!!” Teriakku keras
Brrakk!! Aku jatuh terhempas di troatoar jalan. Tangan dan lututku terluka. Perih sekali rasanya. Yen Tzu mungkin mengejarku. Dia menggandengku dan meletakanku di dalam mobilnya. Aku menangis dan meringis kesakitan, aku menangis karena aku gagal mengejar Sin Hui, dan kakiku terluka.
Aku dibaringkan di atas ranjang yang terbuat dari bulu ayam di kamarku. Ibu terlihat sangat cemas. Bisa kurasakan dari suara ibu saat dia berbicara.
“AChen, kau terluka sayang. kenapa bisa seperti ini?”
“Maaf, bibi. Mungkin ini salahku, aku membiarkan Achen lari begitu saja.. aku Yen Tzu teman Achen..”
“Tidak, ini bukan salahmu..” Jawabku cepat.
“Terimakasih, anak muda. Kau telah mengantarkan putriku ini. kalian berpacaran?”
“Tidak, bu. Sudahlah ibu, jangan bertanya seperti itu lagi..” Desisku. Ibu kembali membersihkan luka di lutut dan tanganku dan membubuhkannya dengan obat.
Sudah seminggu aku menunggu kehadiran Sin Hui di taman. Tapi sampai sekarang aku tidak merasakan kehadirannya. Sungguh, aku merindukan kehadirannya. Aku ingin tahu bagaimana kabarnya, apakah dia juga merindukanku? Mungkin tidak, jika dia merindukanku dia pasti akan menemuiku.
Berbeda dengan Yen tzu, sejak dia mengantarku pulang, hampir setiap hari dia mengunjungi rumahku, membawa buah tangan untuk keluargaku. Sampai ibuku sangat menyukai kehadirannya, dan ibu juga meminta kami segera berpacaran atau langsung menikah. Meski Yen tzu sedemikian perhatiannya padaku tapi tetap saja aku tidak bisa mencintai dia lagi. Sin Hui terlanjur mencuri hatiku lebih dulu. Tapi, Sin Hui hilang tanpa jejak, aku kehilangannya. Apa aku harus melupakan lelaki itu?
“Ayolah, Achen. Ibu mohon menikahlah dengan Yen Tzu. Usiamu telah cocok untuk menikah, Yen tzu juga lelaki yang sempurna dan dia menerima semua kekuranganmu.” Ucap ibu malam itu di kamarku. Aku tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.
“Tapi bu, aku tidak pantas untuknya, aku buta dan dia normal. Kami berbeda, bu.” Bantahku.
“Tapi, kau akan bahagia dengannya. Umur ibu juga sudah tua, ibu ingin melihatmu menikah dan bahagia bersama pria seperti dia..”
Aku menghela napasku yang terasa berat. Sedikit sesak di dada. Akhirnya, aku terima usulan ibu. Dan ibu segera menghubungi Yen Tzu. Ya, Tuhan aku ingin bertemu Sin Hui dan memberitahu dia agar dia menghentikan semua ini, katakan padanya kalau dia juga mencintaiku.
Aku duduk di taman, rasa rinduku pada sin Hui semakin dalam. Di sisi lain aku juga sedih menerima lamaran Yen Tzu padaku. Yang kuinginkan sekarang hanya Sin Hui. Tanpa kusadari air mata mulai menetes dari pelapah kantung mataku. Sehebat ini perasaanku padanya. Dan sejak aku mengenal Sin hui aku mengerti ucapan seorang penderita bisu yang samar dan hilang timbul. Tapi terbiasa dengan keadaan seperti itu.
“Apa kabar…” Suara samar Sin Hui nyaring di kupingku. Apa aku sedang bermimpi?
“Sin hui..”
Tidak ada jawaban, terasa hembusan nafasnya di telingaku.
“Maaf, aku menghilang beberapa hari ini..”
Aku menelan ludahku dan menganggukan kepalaku dengan cepat.
“Sin Hui aku akan menikah..” Ucapku perlahan. Entah bagaimana bentuk wajahnya saat ku katakan yang sebenarnya terjadi. Hening. Tidak ada respon.
“Kau mencintaiku kan, sin Hui? katakan!! Kau mencintaiku kan?” Tegasku berulang.
“Kumohon jawab..” Isakku. “Aku mencintaimu kumohon hentikan pernikahanku ini.. ku mohon…”
“Aku tuli dan bisu. Apa mungkin seorang seperti ku bisa bersamamu. Kau pantas bersama lelaki yang normal dan sempurna seperti dia, tapi bukan sepertiku.”
“Kau tidak mencintaiku? Aku kiraa…”
“Aku mencintaimu, tapi percuma kita bersama, kau pasti akan menderita bersamaku..”
“Tapi aku hanya ingin dirimu.. tolong hentikan pernikahanku..” Lirihku.
Aku merasakan sentuhan lembut tangannya di pipiku. Diusapnya airmataku dengan tangannya. Dia mendekapkan tubuhnya padaku. “Tolong..” Lirihku.
Sih Hui menganggukan kepalanya dan mendekappkan tubuhku.
“Ibu.. Aku pulang..” Teriakku sambil terus menggenggam jemari Sin Hui.
Ibu segera menemuiku. Mungkin dia sedikit kaget aku pulang bersama seorang lelaki.
“Tampan sekali dia, temanmu?”
“Bukan bu, dia pacarku..” Jawabku singkat.
Ibu kaget, “kau bercanda kan? Bagaimana dengan Yen Tzu?” Tanya ibu lagi
“Nanti saja kita bicarakan ini bu, kenalkan dia Sin Hui..”
“Sin Hui..” Ucapnya dengan suara khasnya.
Mungkin ibu kaget, karena lelaki pilihanku itu bisu.
Ibu menarik tanganku dan mengajakku ke kamaarnya. Sin Hui masih terpaku, mungkin dia merasa ibuku tidak akan menyetujui hubungan kami.
“Kau bercanda? Lelaki tuli seperti dia tidak mungkin bisa membuatmu bahagia!! pekik ibuku dengan nada tinggi.
“Tapi dia sangat baik padaku, dan aku mencintainya bu..”
“Yen Tzu lebih pantas buatmu. Kau tahu dirimu bagaimana sekarang? Jarang sekali pria normal ingin menikahi seorang gadis buta!!”
Tanpa terasa saat kudengar kalimat yang terurai dari bibir ibuku, airmataku jatuh mengalir. Aku menyeka segera airmataku itu.
“Ibu keterlaluan, ibu jahat!” Aku segera pergi dengan jalan yang kupercepat bersama tongkatku. Aku harus menemui Sin Hui lagi. Mana dia? Aku tidak merasakan aroma parfumnya lagi. “Sin Hui..” Panggilku. Hening tanpa jawabaan.
Aku balik ke kamarku, aku menangis sejadinya di dalam. aku memang tidak bisa menikah dengan Yen tzu karena dia bukan lelaki yang kucintai lagi. Tinggal dua minggu lagi pernikahan kami. Aku harus lari dari sini, aku harus mengejar cintaku. Menikah dengan lelaki yang tidak kucintai sama dengan membuat hidupku terus menderita.
Malam itu tepatnya tengah malam, dengan pakaian-pakaianku yang telah kusimpan rapi ke dalam ransel, aku bersiap pergi meniggalkan ibu dan keluargaku. Aku tahu tindakanku ini terlalu bodoh. Aku mengendap ngendap menuju pintu depan. Kubuka perlahan pintu yang terkunci. Srrrett! Seorang gadis buta sepertiku berjalan sendirian di tengah malam yang gulita. Aku bingung harus pergi kemana. Kuputuskan ke taman untuk sementara.
“Achen..” Suara yang tidak asing lagi kudengar.
“Sin hui.. kau itu?” Dia seperti malaikat, dia datang disaat kubuthkan.
“Iya. Ngapain kesini tengah malam seperti ini, kau sudah…”
“Iya aku sudah gila, aku sudah gila karena aku rela kabur demi mengejar cita cita ku untuk bersama kamu..” Isakku.
“Bagaimanapun kita tidak bisa menyatu. Orangtuamu tidak mengijinkan kita bersama, dan kau akan menikah. Sudahlah, tidak perlu bertindak bodoh lagi. Aku tidak bisa bersamamu..”
“Kau bercanda?” tatapku dengan nanar.
Aku rasakan langkah kaki sin hui, mungkin dia mencoba pergi meninggalkanku. Aku kecewa.
“Aku rela mati daripada aku harus bersama Yen Tzu..” Teriakku.
Sin Hui menghentikan langkahnya.
“Mengapa waktu itu kau terima lamarannya? jangan mengecewakan orangtuamu..” Sin Hui kembali meneruskan langkahnya yang sempat terhenti. Aku menangis sejadinya. Aku benar benar kecewa. Aku terus menatapi bulan yang menyaksikan ratapanku ini. Hingga malam semakin larut.
“Aku akan menikahimu.. Ayo ikut denganku aku akan mengatakan kabar gembira ini pada orangtuaku. Gadis bodoh sepertimu tidak boleh kubiarkan sendiri menderita disini..” Aku kaget, Sin Hui datang kembali dan mengatakan kalimat yang tidak bisa kupercaya.
Dia menarik tanganku dan membawaku pergi dengan taksi.
“Kau serius Sin Hui?” tanyaku
“Iya..” Jawabnya singkat. Aku menangis bahagia dalam dekapan tubuhnya.
Esoknya aku dan Sin Hui bersiap untuk terbang menuju Phuket, Thailand, dimana keluarganya berada disana. Akhirnya kami tiba di negara yang terkenal dengan sebutan gajah putih. Sin Hui membawaku menuju rumah orangtuanya. Setelah persetujuan keluarga Sin Hui yang sekarang berada di Thailand, akhirnya kami merencanakan hari, tempat dan baju pernikahan kami tersebut. Selintas aku terfikir bagaimana keadaan orangtuaku di Taipei. Entahlah, aku akan kembali setelah semuanya berjalan dengan baik.
Hari pernikahanku tiba, aku mengenakan gaun putih yang terurai panjang hingga menyapu lantai. Kata adiknya Sin Hui aku sangat cantik dengan gaun ini.
Pendeta mengesahkan pernikahanku dengan Sin Hui, aku menangis bahagia saat kami melontarkan janji setia semati. Semua bertepuk tangan dan terharu. Suasana terasa begitu mengharukan dan membuatku menangis bahagia karena kini aku dan Sin Hui menyatu untuk selamanya.
Lima tahun kemudian, aku dan Sin Hui telah memiliki dua orang putri yang cantik. Kami namai Shin Chen dan A hui. Ibu salah kalau kami bersama, kami akan menderita. Malah aku sangat bahagia, kami merintis usaha rumput laut goreng yang telah memiliki pabrik sendiri dan telah mendunia.
Di Natal tahun ini, aku dan Sin Hui berliburan ke Taipei. Sekalian untuk memberitahu kebehagiaanku pada ibuku yang telah lama tidak bertemu.
Sopir kami menghentikan mobil sedan mewah kami di depan rumahku yang masih terlihat tua. Aku menggendong A hui putriku yang masih 6 bulan. Dan Sin Hui menggandeng Sin Chen yang sudah tiga tahun. Aku mengetuk pintu rumah, dan ibu memelukku erat. Dia menangis, “maafkan ibu, karena ibu kau pergi dari rumah.. kalian telah menikah? Selamat ya, ibu bahagia melihat kalian begitu bahagia dan sukses sekarang..” Ujar ibu
“Maafkan aku juga ibu, aku pergi tanpa sepengetahuan kalian. Tapi aku sudah bilang aku tetap mengejar cintaku bu..”
“Iya iya, tidak apa.. Ayo masuk.. Hei ini cucu ibu?, Sungguh cantik sekali mereka..”
Waktu telah membawaku pada cinta sejatiku yang tak kupikir sangat rumit menjalaninya dengan kekurangaan kami, dan airmata dan pernah tanpa restu orangtuaku. Tapi waktu juga yang telah membawa kami pada restu orangtuaku dan membuatku kami bahagia selamanya.

I LOVE YOU FOREVER




Siang yang begitu melelahkan, hari ini keluargaku sibuk menata rumah dan mempersiapkan makan siang. Aku Putri anak ke-dua dari mama papa, aku punya kakak cowok yang super nyebelin, namanya kak Erik. Semua anggota keluarga sibuk dengan pekerjaanya masing-masing. Aku sendiri sedang membersihkan debu-debu dengan kemoceng. “uhuk..uhuk..” aku batuk-batuk setelah debu itu masuk kehidungku. “yee.. kenapa lo? Bengek?.” Kak Erik meledekku. “apaan sih kak? Aku itu alergi debu tau!”
“alergi??? Yaiyalah kalo debu masuk kehidung pasti batuk .”
“itu tau..ahh kak Erik nih.” Akupun memukul punggung kak Erik dengan kemoceng. Kami pun terlihat bercanda saat bersih-bersih.
“eh..eh.. kalian itu apaan sih. Udah jangan bercanda ah. Gak ada waktu lagi ini.” Mama tiba-tiba datang.
“iya mah iya..” kataku nurut.
Setelah semua beres, aku pun langsung bertanya dengan mama.
“ma, emang ada apa sih? Kok kita beres-beres rumahnya mendadak.”
“nanti itu ada tamu sayang.” Jawab mama.
“memangnya tamu itu spesial ya mah..” tanyaku lagi.
“hm.. spesial gak ya..” papa tiba-tiba menyahut dari belakang.
“ih.. papa, aku serius nih” gerutu aku.
“sudah kamu ganti pakaian gih sekarang, habis itu langsung turun ya.” Perintah mama.
“iya mah.” Tanpa membantah perintah mama, Aku langsung naik keatas, untuk ganti pakaian.

Setelah aku ganti pakaian aku langsung turun, aku mengenakan atasan putih trendy masa kini yang lebih casual dengan celana jeans hitam tanggung yang biasa kupakai. Dan nampaknya tamu itu telah datang. Aku pun segera menyapa tamu itu. Mama dan papa pun menyuruh aku untuk segera menyantap makan siang bersama tamu itu. Aku memerhatikan satu per satu tamunya, nampaknya satu keluarga.
“selamat menikmati makan siang ini, semoga aja suka.” Mama berkata setelah semua siap untuk menyantapnya.
“sebelumnya, kenalin dulu.. mereka ini anakku.” Mama tersenyum ramah kepada tante Murni dan om Andi juga anaknya, mereka semua adalah tamu hari ini.
“kenalin tante aku Erik, ini adikku, Putri.” Kak Erik langsung bersalaman kepada mereka, disusul aku.
“ohh.. cantik dan tampan ya. Tante juga mau kenalin, ini anak tante, Rizal ayo salaman!” tante Murni menyuruhnya.
“Om , tante, saya Rizal.” Rizal pun bersalaman dengan mama, papa, aku dan kak Erik.

Perkenalan pun usai, makan siang pun telah disantap. Kini saatnya mereka untuk mengobrol dan berbincang-bincang di halaman belakang. Aku pun pergi dari tempat itu, lalu aku keluar, bergegas kedepan teras. Gimana mau betah? Orang yang dibicarain juga masalah pertemuan yang udah lamaaa bangettt mereka tak berjumpa, apalagi waktu itu aku masih belum ada. Sesaat setelah aku keluar, rasanya aku ingin ke kamar mandi. Lalu aku masuk kedalam rumah. Tapiiii... ‘brakk...’
“aww.. ahhh!!!” aku ditabrak Rizal yang sedang membawa minuman soda berwarna merah. Sehingga minuman itu tumpah dibajuku yang berwarna putih.
“ups! Maaf..maaf.. gak sengaja.” Rizalpun segera membersihkan bajuku dengan tisu.
“ahh.. apaan sih?” aku melepaskan tangannya yg sedang mengelap bajuku.
“udah terlanjur.. gak bisa bersih lagi lah. Lagian lo baru disini juga udah buat ulah. Aneh-aneh aja lo!” akupun langsung naik keatas dan pergi meninggalkan Rizal yang masih ada di depan ruang tamu.
Setelah kejadian itu, aku gak keluar-keluar dari kamar. Tetapi, mama memanggilku. Mau nggak mau aku harus turun kebawah. Dengan perasaan kesal aku turun tangga namun dengan wajah tersenyum. Walau senyumku palsu!
“sini dong sayang.. kamu kenapa sih dari tadi diatas mulu. Ada tamu juga. sekarang mereka udh mau pulang.” Ucap mama yang menghampiriku.
lalu aku berjabat tangan dengan om dan tante, tapi tidak dengan Rizal. Memang, aku masih bete sama dia.
Setelah 2 hari kejadian itu berlangsung..

Aku pulang sekolah...
“assalamualaikum.. mamaa” ucap aku yg tiba-tiba membuka pintu dan tak kusangka ada tante Murni dan Rizaall!!! Appaaa?? Owhh tidak!! Ketemu cowok yang super nyebelin dengan gayanya yang sok sok-an itu.
aku pun langsung bersalaman dengan tante Murni. Lalu aku segera naik keatas untuk ganti baju. Tanpa bersalam sapa dengan Rizal, anak tante Murni. Setelah beberapa saat, aku turun. Dan aku melihat tidak ada siapa-siapa di ruang tamu. Memangnya pada kemana ya tamunya? Tanyaku dalam hati. Tak berpikir lama aku segera ke depan teras, namun yang kulihat hanyalah Rizal yang sedang duduk didepan teras. Aku tak menghiraukannya, lalu aku segera berlalu dari tempat itu, namun baru berbelok arah sedikit Rizal memanggilku.
“Putri.. tunggu!!” panggil Rizal yang mengetahui kehadiranku.
“apa lagi?” dengan tampang jutek aku melirik ke arah dia yang sedang berdiri dari tempat duduknya.
 padahal itu baju model trendy masa kini.
L“oh iya kejadian yang kemaren, gue minta maaf ya” . aku mendengus kesal, si Rizal masih aja inget kejadian itu. Tau nggak sih? Gue kesel itu karna baju putih kesayangan gue yang baru beli jadi kotor dan gak bisa dipake lagi. Huh
“maafin gue ya” ucap Rizal lagi. Aku diam. Tapi aku tak bisa apa-apa untuk melawan.
“huh yaudah iya.” Ucapku dengan nada jengkel.
“maafnya nggak ikhlas nih!” sahut Rizal.
“ehh kata siapa gue ikh..ikhlaas kok.” Ucap aku sedikit gagap.
“dari nadanya aja ketauan.” Lirik Rizal dengan gayanya yang sok meyakinkan.

Emang nyebelin yah tuh anak. Tau aja kalau gue masih belum ikhlas. Tapi, buat apa ya gue terusin. Harusnya gue gak boleh begini, gue harus ikhlas dong. Aku pun melirik dia dengan ucapanku yang meyakinkan.
“oke.. gue ikhlas. Udah lupain aja kejadian itu.” Jawab aku tenang.
“serius. Kalau perlu gue ganti deh baju lo” Ucap rizal yang sekarang ada dihadapanku.
“ngg..nggak usah.” Aku menolaknya.
“yakin?”
“iya yakin”
“kalau gitu senyum dulu dong.” Pinta Rizal sambil tertawa.
“ih.. apaan sih. Nih gue senyum. Puaasss??” jawab aku sambil menunjukan senyumanku.
“nah.. gitu kan jadi manis.” Ledek Rizal.

Akupun hanya tertawa mendengar ledekan Rizal itu. Dia bisa bikin gue tersenyum. Tapi aku tak memikirkan hal itu. Kini hubungan aku dan Rizal berjalan biasa saja. Sesaat kejadian itu, aku yang baru keluar mengambil minuman, melihat Rizal sedang memainkan gitar. Hmm.. ternyata ia pandai juga memainkannya. Siswa SMA kelas 2 tersebut dengan lembut memainkan gitar dan suaranya pun tak kalah dengan musisi papan atas Indonesia.
“kenapa lo nggak jadi penyanyi aja?” tiba-tiba aku datang membawa 2 cangkir minuman ke ruang tamu.
“hm.. gue udah bikin band kecil-kecilan kok, tapi gue masih sibuk sekolah.” Jawab Rizal.
“oohh.. bagus.” Aku mengangguk tersenyum.
“lo mau gue nyanyiin lagu apa?” Rizal menawarkan aku.
“eh.. boleh? Hm.. kalau gitu apa aja deh.”
Rizal pun memainkan gitar dan menyanyikan sebuah lagu. Tapi kenapa lagu itu romantis ya kedengarannya. Aku hanya tersenyum. Tapi apa arti senyumku ini? Apakah senang? Bahagia? Atau bangga? Aku nggak tau kenapa tiba-tiba aku jadi respect kalau dekat Rizal.

Beberapa bulan kemudian...
Aku merasa kesepian, apa karna ini aku sedang menjomblo ya? Mungkin sih? Tapi aku bahagia. Aku masih membayangkan sosok Rizal yang ternyata tidak seburuk yang aku kira. Aku begitu menyesal waktu itu pernah membencinya. Kini aku begitu merindunya. Hah? Perasaan apa ini? Tiba-tiba datang menghampiriku. Pertemuan dengannya waktu itu membuat aku terus memikirkannya. Tiba-tiba......
‘tok-tok-tok....’ suara pintu membuyarkan lamunanku. Aku terhenyak, lalu aku bangkit membuka pintu. ‘ckrreeekk’...
“Rizal!!!!” aku kaget.
“Putri.. apa kabar?” Rizal datang kerumah dengan membawa gitar yang sedang dipegangnya.
“g..gue baik. lo kesini sendiri?” tanya aku.
“iya gue sendiri.”
“hm.. kalau gitu masuk aja.” Ajak aku.

Aku dan Rizal pun masuk, lalu pergi ke halaman belakang. Aku membawakannya minuman, lalu aku duduk. Ia pun sedang asik memainkan gitarnya. Lalu kami berbincang-bincang.
“hmm.. ada apa lo kesini? Tumbennya ?” ucapku memulai perbincangan.
“gak tau. gue bete aja dirumah. Jadi gue kesini.” Jawab Rizal tenang.
“haha emangnya ada apa sama rumah gue? Emang bisa bikin bete lo ilang apa?” ledek aku.
“hahaha gak tau yaa kenapa?” Rizal pun tertawa.
“oh ya tapi gue kesini punya alasan lho!” lanjut Rizal.
“alasan apa?” tanyaku penasaran.
“karna gue mau kasih sesuatu ke lo.” Tiba-tiba Rizal berubah menjadi lebih lembut.
“apa itu?” tanyaku lagi makin penasaran.
“gue mau persembahkan lagu ini ke lo.” Lalu Rizal menyanyikan lagu dengan lantunan gitar dan dengan nada yang romantis.. lalu Rizal berkata...
“Putri... gue suka sama lo. Mau nggak kamu jadi pacar aku?”
‘ DERRRRR!!!!’ bagaikan suara tembakan yang menggelegar ditelingaku. A..a..akuu.. terharu. Akupun tak menyangka bila Rizal akan berkata seperti itu. Jujur, aku senang mendengarnya. Namun aku belum siap untuk menjawabnya.
“maaf.. mungkin bagimu ini mendadak. Tapi aku telah memutuskan semua ini lama. Aku mulai merasa sangat nyaman bila berada didekatmu. Namun apakah salah aku berkata seprti ini kekamu?” tiba-tiba Rizal berkata dengan lembutnya, bahkan dia mengucapkan kata aku dan kamu. Romantis,..
“tapi..?”
“tapi apa?, jawab yaa, mau nggak kamu jadi pacar aku?”
aduuhh.. gimana yaa? Gimana nii? Aku bingung? Bagiku ini sih terlalu cepat. Tapi... aku gak mau nyia-nyiain kesempatan ini. Lagipula, kan aku lagi jomblo. Dan aku merasa kesepian. Siapa tau aja dia bisa menghibur aku. Apa aku terima aja ya? Aku coba terima deh...
“aa..a..aku aku mau” akupun menjawabnya, dan tiba-tiba Rizal meraih tanganku dan menggenggamnya dengan erat. Aku hanya tersenyum.

Kini rasa bahagia menyelimuti hatiku, aku bagaikan tertiup angin semilir yang membawa cinta diudara. Badanku gemetar, hatiku tak sanggup menahan kuasa cintanya. Ternyata, aku mulai membayangkan sosok yang ada dihadapanku ini. Kini aku akan melewati hari-hariku dengannya. Jantung ini tak berhenti berdegup kencang. Menandakan bahwa cintaku ada didekat sini. Rasa itu?? Tak akan pernah berhenti hingga ku lewati hari-hariku terus bersamanya. Semakin hari.. semakin sayang.., makin berganti bulan , makin mesra pula. Aku yang akan duduk di bangku SMA kelas 1, menyambut hari bahagianya Rizal yang kini telah lulus SMA dan sudah mulai kuliah. Aku merasa senang. Meskipun beda usia. Bukan berarti cinta kita berbeda. Aku menyayanginya begitu tulus. Sehingga, tak kusangka aku sudah melewati 2 tahun lamanya kita berpacaran. Aku dan Rizal pun tak menyangka. Kita yang slalu jarang bertemu. Karna Rizal, sosok yang tengah sibuk akan bandnya. Kuliahnya kini, dan sering pulang-pergi keluar kota karna kontrak tertentu. Walau aku menjalani cinta long distance relation-ship ,aku tetap bahagia. Sampai sekarang hubungan kita baik-baik aja. 

Sampai pada waktunya cinta kita dipertemukan pada akhir desember.
“aku bete..! eh Rizal lagi ada di TL nih!” aku yang bete didalam kamar, membuka handphone dan mengecek twitter, melihat ada Rizal yang lagi on twiit sekarang. Wajahku pun berseri-seri.
“tapi ini siapa yah? Kok ada akun cewek lain yg berinteraksi sama dia.” Aku bertanya dalam hati. Tapi aku tak mempermasalahkan itu. Ya, aku sedang senang, karna hari ini Rizal ada di Jakarta. Akupun ingin memberi surprise ke dia. Tak berpikir panjang aku segera ganti baju dan berangkat kerumahnya dengan diantar supir pribadiku. Sepanjang perjalanan, aku mulai berfikir. Mengapa Rizal tak mengabariku kalau dia ada di Jakarta sekarang. Tapi kenapa dia malah update status di twitter, dan mentionan sama orang lain. Bahkan itu adalah cewek lain. Aku mulai curiga, tapi dalam hati kecilku aku harus berfikir positif. Sesampainya didepan gerbang rumah Rizal. Aku masuk dan megetuk pintu rumah Rizal.
“Putrii??!!” sapa tante Murni, setelah membukakan pintu itu.
“iya tante, saya kesini mau cari Rizal tan, Rizalnya ada?” tanya aku langsung tanpa basa-basi.
“Rizalnya baru aja pergi. Memangnya ada apa?”
“eng.enggak kok tan. Cuma pengen ketemu aja. Hm.. Rizalnya pergi kemana ya tan, kalo boleh tau?”
“Rizal sih biasanya pergi ke studionya.” Jelas tante Murni.
“yaudah deh, oh ya nih tan ada kue buatan mama. Silahkan dicoba ya tante.” Aku memberikan sekotak kue untuk tante Murni, yang aku persiapkan sebelum berangkat.
“makasih ya Putri, pasti ini enak.”
“sama-sama tante, aku pergi dulu ya.” Akupun langsung pamit. Lalu segera pergi ke studio dimana Rizal berada. Sesampainya aku disana, aku langsung memasuki ruangan yang ada dalam studio itu. Rasanya nyaman. Ruangannya pun sepi. Tapi inikan baru dilantai bawah. Aku segera naik keatas dilantai 2 biasa Rizal dkk berlatih vokal dan musik. Suara alunan musik pop sudah terdengar, menandakan memang ada yang berlatih disitu. Tak kelak suara Rizal yang mengalir melankholis. Aku semakin bersemangat menaiki tangga demi tangga. Ketika sampai akupun disambut oleh kawan-kawan Rizal yang sedang berlatih, ada Ando di drum, Madi di gitar 1, Raka di gitar 2, dan Indra di bass. Mereka sangat senang dengan kehadiranku ini. Apalagi Rizal yang langsung menyambutku dengan sebuah pelukan. Rasanya bahagia banget... tapiii?? Ketika berada didalam pelukan Rizal aku melihat seseorang yang duduk disudut sofa. Cantik. Siapakah dia? 
Aku mulai penasaran. Segera kulepas pelukan Rizal. Dan menatapnya.
“Rizal, itu siapa?” tanyakku dengan lembut.
“ohh ini.. kenalin dia partner kerjaku, Vika.” Tunjuk Rizal dengan senyuman ramah pada Vika.
Vika? Tunggu tunggu? Kayaknya pernah kukenal namanya. Dimana ya? Oh? Hampir aja lupa? Kini aku ingat. Dia Vika. Yang sempat aku lihat namanya terpampang di TimeLine. Tapi...
“ayo kenalan!!” ajak Rizal yang menggandengku kearah Vika.
“hey kenalin, aku Vika.” Ujar cewek itu yang segera beranjak dari sofanya, dan ternyata selain dia cantik, dia juga tinggi... aku pun merasa terlihat pendek. Ya, maklum aku kan masih dalam masa-masa pertumbuhan anak SMA. Wajar aja kalau tinggi tubuhkan tak kurang dari 160 cm.
“aku Putri.” Akupun menerima jabat tangannya dengan senyuman yang penuh tanda tanya. Mengapa tanda tanya? Karna aku masih penasaran hubungan Vika dengan Rizal. Mengapa dia berdua nongol di TL? Seberapa sibuknya Rizal sampai sempat membalas tweet Vika dibanding aku yang juga udah berkali-kali menanyakan kabarnya lewat twitter. Satupun belum ada yang dia balas. Tapi.. aku masih penasaran apasih yang dia bicarain di TL. Akupun segera menyandarkan tubuhku ke sofa. Rizal yang sedari tadi memperhatikan tingkahku hanya tersenyum jahil kepadaku. Akupun sedikit meliriknya. Tetapi tidak menghiraukannya. Merekapun akhirnya melanjutkan latihannya. Lalu akupun sibuk dengan urusanku sendiri. Kuraih handphone-ku yang berada dalam saku. Kubuka twitter, lalu...???!!! apa??!! Apa yang aku lihat barusan. Tidak mungkin seorang partner ada hubungan spesial seperti ini. Kulirik Rizal dan Vika bergantian, namun sesaat aku menengok kearah Vika, ada tatapan yang begitu mendalam ke Rizal. Kenapa dia menatap seperti itu? Apa jangan-jangan dia suka? Kulihat lagi Rizal yang masih fokus pada vokalnya itu. Lalu kupalingkan padanganku pada layar yang terpampang pada twitterku kali ini.
iyaa sama2 Vika Sayang {} RT @Vika21 oke makasih ya Rizal kece ;;) RT @Rizal_pradana sip ditunggu ya hari ini ;)

Aku terdiam. Wajahku tak bergerak, bola mataku hanya fokus pada layar kecil yang ada ditanganku. Aku memperhatikan kata demi kata. Mengapa Rizal bisa bilang sayang ke orang lain selain aku. Aku menatap Rizal dalam. Bingung. Hanya itu yang aku lihat dari kejauhan. Rizal yang masih terlihat fokus pada latihannya sama sekali tidak melihat kearahku. Tapi tak apa. Sehingga dia tidak melihatku yang nampak curiga. Aku juga tidak ingin seperti ini. Tapi...
“Rizal aku pulang dulu ya..!” kuraih tas kecilku dan beranjak dari sofa lalu berjalan menuju tangga yang membawaku turun dari lantai 2.
“Putri!! Tunggu!!” Rizal pun memanggil-manggil namaku tapi aku tak menghiraukannya. Kulihat dia sedang berlari mengejarku yang sudah turun ke lantai bawah. Aku terus berjalan cepat, ketika aku ingin membuka pintu keluar. Rizal langsung meraih tanganku, dan menarikku kedalam.
“Putri kamu kenapa sayang? Kenapa tiba-tiba kamu pergi, ada apa?” Rizal menatapku heran. Aku bingung. Entah harus apa yang aku katakan.
“aa-a-aku.. aku gak kenapa-napa, aku Cuma pengen pulang aja.” Aku tergagap, karna bingung harus jawab apa.
“kamu yakin gak kenapa-napa. Aku lihat muka kamu tiba-tiba beda sayang. Kamu kenapa?” tanya Rizal lagi yang masih belum percaya.
“aku.. aku mau pulang!” aku menaikan alis dan sedikit keras mengeluarkan suara.
“yaudah aku antar yaa..” Rizal langsung memeluk aku, dia mengelus bahuku. Aku hanya diam dalam pelukan. Aku nggak sanggup. Aku nggak sanggup bila harus kehilangan Rizal. Rizal begitu sayang sama aku. Nggak mungkin kalau dia mengkhianati aku. Aku harus positif thingking. Karna siapa tau, analisa aku salah.
“nggak usah. Aku bisa pulang sendiri. Lagipula, kamu belum selesai kan latihannya?” aku melepaskan pelukan Rizal dan menatapnya.
“aku bisa lanjutin nanti kok latihannya. Yang penting aku mau antar kamu pulang dulu.” Ujar Rizal seraya membelai pipi mulusku. Dia menatapku begitu dalam. Aku bisa merasakannya. Saat ini aku bisa mendengar detak jantungnya untukku. Kutatap dia penuh cahaya. Aku bisa meraih lehernya, sekarang dia begitu dekat denganku. Sebuah jarak bisa diukur dengan jari. Aku memejamkan mata, kurasakan denyut jantungku terasa lebih cepat. Bibirku mulai gemetar, bisa kurasakan ada yang ingin menyentuhku saat ini. Kunikmati itu semua. Namun, kurasa cukup lama. Aku tak mau mengganggunya latihan, pikirku.
“yaudah, yuk pulang!” ucapku setelah melewati masa berumanku tadi.

Rizal mengangguk senang. Dia tersenyum. Manis sekali. Kusejajari langkahku bersama pacarku ini. Aku menggandengnya selama di perjalanan menuju parkiran. Tak hayal, canda tawa kita lalui sama-sama. Kagum. Dia begitu ceria. Sehingga, semuanya berlalu begitu cepat.
“nggak nyangka, udah nyampe rumah aja” ucapku dalam canda setelah sampai didepan gerbang rumahku.
“hahaha.. bilang aja kamu masih pengen sama aku, ya kan?” ledek Rizal sambil menarik hidungku yang gak terlalu mancung, tapi gak pesek.
“udah ah, sakit tau.”
“apa kamu masih mau aku temenin seharian ini, kan kita udah 2 bulan gak ketemu.” Sahut Rizal. Serius nampaknya.
“aku... hm... tapi gimana dengan latihanmu? Kasihan anak-anak pasti nunggu kamu disana.” Tak kalah seriusnya dengan Rizal.
“yee.. itu tau. Berarti kamu ngerti ya, kamu emang pacarku yang paliinngg ngertiin aku deh.” Ledek Rizal yang tiba-tiba berubah jadi nggak serius lagi. Dengan tampang yang nyebelin, sambil mencolek daguku yang hampir aja bikin aku kaget.
“oohh.. ternyata kamu gituu yaa.. yaudah deh sana-sana gih latihan.” Ucapku pura-pura marah, lalu keluar dari mobil dan menutupnya agak keras. Sepertinya Rizal kaget, hehehe. Dengan muka yang masih ditekuk aku melangkahkan kaki menuju pintu. Tapi tanganku seketika ditarik dari belakang. Aku menoleh. Tak lain adalah Rizal. Dia masih belum pergi.
“apa lagii??? Bukannya sekarang harus latihan ya.” Ujarku jengkel.
“tapi aku masih kangen sama kamu, apalagi kalau kamu lagi cemberut, makin manis dilihat.”
“apa kamu bilang?? Uhh,,” aku menggertak rahangku, membuat Rizal agak mundur.
“udah udah.. kamu jangan marah dong sayang. Maaf ya aku bikin kamu jengkel terus.”
“yaudah sana. Aku mau masuk dulu.” Aku membalikan tubuhku kearah pintu.
“tunggu sayang, ada yang ketiggalan?”
“apa?” setelah aku menoleh, tiba-tiba kecupan mendarat tepat dikeningku. Aku tersipu malu. Disaat saat seperti ini, Rizal masih aja ya ngelakuin ini. Dimana udah 2 bulan lebih aku nggak mendapatkan kecupan seperti yang biasa dilakukan Rizal.
“aku sayang kamu. Jangan lupa nanti kamu aku telfon ya.. aku ingin denger suara kamu yang cempreng itu. Aku tunggu ya sayang.” Ucap Rizal lembut seraya membelai rambutku yang lurus sebahu.
“iya sayang, pasti.” Aku tersenyum bahagia. Bahagia sekali.
“oh ya, aku tahu kenapa kamu tadi buru-buru minta pulang.” Tanya Rizal tiba-tiba.
“kenapa?”
“pasti kamu cemburu ya lihat Vika tadi.”
“e..enggak kok. Apa sih yang aku cemburuin. Lagi dia bukan siapa-siapa kamu kan?”
“jelas bukan lah, dia Cuma partner kerja aku sekarang. Tapi sebelumnyaa....”
“sebelumnya apa?” tanyaku jadi penasaran.
“sebelumnya dia sempet jadi teman dekatku beberapa tahun lalu. Tapi kan sekarang aku udah jadi milik kamu, nggak mungkin dong aku berpaling ke dia. Walaupun dia kelihatannya masih suka sama aku.” Rizal menjelaskan. Aku hanya diam. Terpaku.
“ja..jadi dia suka sama kamu.?”
“iyaa.. tapi itu dulu sayang, sekarang gak tau deh yang sebenarnya. Udah kamu jangan dipikirin lagi ya”
“tapi..tapi tadi kenapa kamu bilang sayang sama dia di akun twitter?”
“ohh.. itu. Ehh gapapa kok, Cuma mau ngasih penghargaan aja sama dia. Dia udah mau bantuin aku nyusun jadwal manggung aku yang bentrok, terus dia juga yang atur latihan kita. Udah itu aja kok sayang, kamu cemburu yaa...” jelas Rizal sambil meledekku.
“eng..enggak kok, awas yaa kalau kamu ada apa-apa sama dia.”
“tuh kann.. ketahuan nih kalau cemburu. Gapapa kok sayang, cemburu itu tanda cinta.”
“iya deh sayang iya, iyaa cembuuru sama kamu, karna aku sayang dan cintaaa sama kamu. Udahkan sayang puass??!” aku mendelik kesal. Walau hanya pura-pura. Dalam hati aku tersenyum bahagia.
“haha.. kamu nih slalu bikin aku tertawa, yaudah aku balik dulu ke studio ya? Nanti aku telfon kamu. Bye sayang, jangan lupa makan ya?!” ucap Rizal seraya jalan menuju ke gerbang.
“oke.. kamu hati-hati ya sayang” tak kalah aku juga memberi perhatian pada Rizal.
“siipp. I Love You.”
“I Love You too”

Betapa bahagianya aku saat ini. Sempat aku berpikiran yang aneh-aneh terhadap Rizal. Aku mengira dia mengkhianati aku. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala ketika berpikiran seperti itu. Wajar aja, karna aku sangat sayang sama kamu. Aku merebahkan tubuhku diatas ranjang, ketika sudah sampai dikamar. Mengambil pigura yang terletak di meja, tak jauh dari ranjangku. Aku membayangkan sosok itu. Rizal yang aku sayangi saat ini. Sampai kapanpun. Dia selalu membuatku bahagia. Kupeluk pigura bersama sosok itu dalam dekapan. Kupejamkan mataku, kubayangkan lagi masa-masa terindah dalam hidupku. Berwarna, ketika bersama dia. Intinya, kita berkomitmen saling menjaga perasaan masing-masing. 

Membuat hubungan ini akan selamanya berjalan. Menuai asa cinta yang sesungguhnya. Melayang jauh aku kemasa-masa yang akan datang. Hanya satu, aku hanya ingin bersamanya nanti. Menjadi yang terbaik, untuk hidupnya dan untuk hidupku. Tuhan.. jaga cintaku ini. Jangan sampai pergi, karna aku hanya mencintai ciptaanmu yang satu ini. Sungguh aku sangat menyayanginya. Hening. Akupun terlelap dalam angan, dan bayangan.

SEMUA SUDAH TERLAMBAT


Sebut saja namaku Putri, aku berusia 25 tahun saat kisah ini terjadi. Kisahku mungkin klise, aku jatuh cinta pada seorang pemuda bernama Panji. Dia adalah kakak kelasku saat kami masih sekolah di SMA yang sama. Saat kelas tiga, dia pindah ke kota lain. Tetapi takdir mempertemukan kami kembali di kampus yang sama, saat kami menempuh kuliah S2. Ada satu hal yang selalu aku simpan dalam hatiku, aku jatuh cinta padanya. Sejak masih duduk di bangku SMA, aku selalu curi-curi pandang ketika jam istirahat. Kadang aku sengaja pamit ke toilet hanya untuk melihatnya bermain basket saat kelasnya ada pelajaran olahraga. Walaupun hanya menatapnya selama 5 menit, rasanya kebahagiaanku penuh sepanjang hari. Remaja selalu malu-malu mengungkapkan isi hatinya, apalagi aku yang memang punya sifat pemalu. Hampir tidak ada sinyal cinta yang aku kirim padanya. Aku tidak seberani teman-temanku yang bisa titip salam atau terang-terangan mengatakan suka pada cowok yang mereka suka. Jadilah aku memendam perasaanku.
Mungkin ini masih cinta monyet, yang akan memudar seiring berjalannya waktu. Dan suatu saat kelak, aku akan benar-benar jatuh cinta di tingkat yang lebih serius dengan pria lain. Nyatanya perkiraanku salah. Walaupun saat kuliah S1 aku sempat berpacaran dengan pria lain (namanya Yanuar), aku tetap meletakkan kenangan akan Panji dalam hatiku. Singkat cerita, saat aku mengambil S2, aku bertemu lagi dengan Panji. Takdir tersebut membawaku pada rahasia yang terpendam. Hatiku kembali berdetak, kembali merasakan indahnya jatuh cinta hanya dengan menatap kedua matanya. Perasaan yang tidak pernah aku rasakan dengan Yanuar. Beberapa kali kami berada di kelas yang sama. Dia masih Panji yang ramah dan suka bercanda. Hubungan kami tetap dekat, tapi tetap saja, tidak ada keberanian untuk mengungkapkan rasa cintaku padanya. Bagaimana aku bisa menyatakan perasaanku, ada Yanuar yang masih menjadi pacarku. Egois memang, aku bahkan sering merasa bersalah pada Yanuar, tapi aku tidak bisa membohongi hatiku. Jika saja Panji mengajakku untuk jadi kekasihnya, atau bahkan istrinya, aku tidak akan menolak.



Sayangnya, takdir yang mempertemukan kami harus berakhir. Suatu hari, di sebuah musim penghujan di akhir bulan Desember, Panji mengalami kecelakaan. Dua hari dia dirawat di UGD, tetapi nyawanya tidak tertolong. Dia pergi selama-lamanya. Duniaku hancur, setiap inci tubuhku menjerit akan kepergiannya, aku bahkan tidak bisa lagi merasakan sakitnya hatiku, seolah ada bagian tubuhku yang hilang, jika diibaratkan, aku bagai guci yang pecah berkeping-keping. Aku hadir dalam pemakamannya. Aku hadir dalam setiap acara doa yang dilakukan keluarganya setiap malam. Di duka yang teramat sangat, ibu Panji memintaku untuk menemaninya, setelah para tamu pulang.
"Mbak, mbak ini temannya Panji yang namanya Putri kan?" ujar wanita tua itu. Aku bisa melihat ada duka mendalam di balik senyumnya. Aku mengangguk, lalu wanita itu mengajakku ke sebuah ruangan, yang menurutnya adalah kamar Panji. Wanita itu menceritakan sebuah rahasia yang tidak aku ketahui.
"Anak ibu.. Panji, dia pernah bilang bahwa dia suka dengan Putri, cinta," lanjutnya.
Detik demi detik berlalu, aku mendengarkan pengakuan ibu Panji bahwa putranya ternyata memendam rahasia. Ternyata selama ini Panji melakukan hal yang sama denganku, diam-diam merahasiakan perasaannya. Bahkan sejak masih di bangku SMA.
"Waktu itu Panji pernah bilang, sekarang Putri sudah punya pacar, mungkin harus menunggu nak Putri putus dulu, baru dia berani jujur," lanjut ibu Panji dengan air mata yang jatuh dari pelupuk matanya. Aku tidak bisa menahan air mataku, aku menangis di dalam pelukan ibu Panji. Aku menangis hingga dadaku terasa ingin meledak. Aku menyesal, sangat menyesal. Aku tidak sempat mengatakan bagaimana perasaanku padanya. Hingga detik ini, penyesalan itu masih ada. Masih mengganjal di dalam lubuk hatiku yang terdalam. Rasanya bahkan jauh lebih berat dibandingkan saat Panji masih hidup.

Minggu, 12 Oktober 2014

kesabaran


Assalamualaikum wr. Wb
Asshaduallailahaillalah waashaduanna muhamadar rosulullah. Ama badu
Marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang mana pada kesempatan kali ini kita semua dapat berkumpul dalam keadaan sehat wal’afiat amin ya robbal ‘alamin.Shalawat dan salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada junjungan kita nabi Muhammad SAW, kepada para sahabatnya, keluarganya, dan kepada kita selaku umatnya.Para hadirin yang saya hormati, ijinkan saya mewakili teman-teman untuk menyampaikan amanat dalam rangka perpisahan ini.Tidak terasa sudah 6 tahun kita berada disini..
Semua cerita indah disini hanya akan menjadi sepenggal kenangan di masa depan. Suatu hari nanti kita pasti akan merindukan masa-masa indah seperti ini. Tak lupa juga kami sangat berterima kasih kepada guru-guru kami yang telah mengajarkan kami arti dari sebuah perjuangan untuk menuju pada kehidupan yang sebenarnya. Tanpa beliau-beliau, kami bukan apa-apa.Mudah-mudahan apa yang kita dapatkan disini bisa menjadi ilmu yang insya Allah akan bermanfaat bagi nusa, bangsa, dan agama dan yang terpenting berguna bagi diri kita sendiri. Amien. Dan semoga saja perpisahan ini bukanlah akhir dari segalanya.
Mungkin cukup sekian yang dapat saya sampaikan kurang lebihnya saya mohon maaf, karena kesalahan adalah milik saya dan kelebihan datangnya dari Allah SWT.
Sekian dari saya.
Wabilahitaufik walhidayah wassalamu’alaikum wr.wb

perpisahan

Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Pertama-tama marilah kita panjatkan Puji syukur ke hadirat Allah S.W.T yang selalu memberikan rahmat-Nya pada hari ini sehingga kita dapat berkumpul bersama untuk mengadakan acara perpisahan sekolah. Shalawat serta salam saya berikan kepada baginda besar Nabi Muhammad SAW beserta sahabat dan umatnya, Dimana beliau adalah suri tauladan bagi kita.
Dan yang terhormat bapak/ibu Kepala Sekolah SMAN 1 Tanjung yang selalu memberikan Motivasi kepada kita Beserta Guru dan Staf T.U
Dan yang saya cintai teman-teman di 12 kelas pada tahun 2012, khususnya teman-teman 12 IPA 3 I love U forever banget.
Dan tidak lupa terima kasih kepada panitia yang telah membuat acara ini meriah dan pula yang memungkinkan saya untuk berdiri di sini dalam pidato yang disampaikan di depan audiens sekarang.Saya hanya ingin berucap kepada teman-teman semua yakniselamat untuk kita semua! Kami berhasil lulus akhir .. Ya Allah, Alhamdulillah .. Hari penuh ujian yang sangat menegangkan kini telah berakhir .. Kita lulus! Kami tidak anak SMA lagi! Kami akan meninggalkan sekolah ini .. dan terpisah ..Perpisahan .. Setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Kebanyakan kita pasti bertemu baru dan sudah akrab di sekolah di sini. Atau mungkin sudah ada sejak SMP, sejak SD, atau bahkan sejak lima. Pertemanan kebahagiaan akan ada ketika kita rumit ini selama tiga tahun dapat bertahan selamanya. Seakan-akan tidak tergoyahkan oleh apapun. Tetapi kita tidak dapat menyangkal bahwa sengan berjalan selama hidup kita, bersama dengan kedatangan sesuatu yang baru seperti kuliah, ngekos, kerja, perkawinan, dan juga sejalan dengan kedatangan orang-orang yang baru, teman baru, pacar baru, baru guy , pemisahan biasa terjadi. Diantara kita mungkin merasa bahwa perpisahan pengecut karena dia sedang menunggu untuk melihat hal-hal baru yang lebih menyenangkan daripada hal-hal berikut adalah sangat membosankan. Tapi mungkin di sisi yang berbeda, ada yang merasa sangat sedih karena ia memiliki banyak hal yang menyenangkan di sini dan berapa banyak kenangan telah dibuat ..Kenangan .. Teman-teman yang saya kasih, sebelum kita terlambat menyadari bahwa waktu tidak dapat diputar kembali dan sebelum kita menyesal karena uang sekolah yang tinggi tanpa kita memiliki segala sesuatu yang berharga. Kemudian membuat banyak kenangan! Melakukan apa yang ingin Anda lakukan. Katakanlah apa yang ingin Anda katakan. Katakanlah kepada guru dalam mengajar terlalu kaku menjadi lebih santai. Katakanlah kepada bising cewe-cewe yang sok ngerasa cantik dan populer tuh jika otak lebih penting dari tampilan! Katakanlah kepada cowo d cupu sekolah untuk lebih percaya diri. Katakanlah kepada orang yang anda cintai bahwa Anda mencintainya! It's SEKARANG atau NEVER, teman! Come On! Seperti waktu berjalan oleh, memori tetap. Seiring waktu, satu-satunya yang tersisa kenanganlah ..Terakhir .. Selama sekolah, kami sebagai siswa sangat bangga dan berterimakasih kepada semua guru yang mengajar di sekolah ini, yang sangat baik, tidak pernah tidak adil dalam mengajar, sabar, sangat lelah dan tidak tahu ke dalam panduan kami. Terima kasih atas jerih payah semua guru, kami dapat lulus dari SMP. Mudah-mudahan semua guru yang bertugas untuk mengajar di sekolah ini dapat diberikan kesehatan dan kebahagiaan selalu diberikan.
Ada sebuah kutipan dari film Cinta Pertama dimainkan oleh Bunga Citra Lestari dan Joshua Benjamin bahwa pertemuan tidak ada yang kekal. Tapi saya percaya, seperti pertemuan, perpisahan juga tidak ada yang abadi! Jangan lupa hal-hal yang berharga kami telah berpengalaman selama tiga tahun sekolah di sini. Menyimpan kenangan di hati kita semuaaa ..Selamat dipisahkan! Selamat adalah karena menjadi non-anak-sekolah lagi. Jauhkan diri Anda jauh dari orang tua kuliah.
Itulah bebapa kata dalam Pidato yang saya sampaikan. Semoga apa yang anda cita-citakan dibangku perkuliahan terwujud....amien..
Akhir kata Kami minta maaf jika ada satu kata yang salah atau tidak berkenan .
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Komentar Terakhir

DUMOC'S evolution | Template by - Abdul Munir - 2008 - layout4all