Saat itu saya duduk di kelas
sembilan SMP, kelas Sembilan terdiri
dari empat kelas yakni dari kelas A sampai kelas D, dan kebetulan saat itu juga
kelulusan SMP semua kelas mempunyai fikiran atau rencana juga bersepakat untuk ikut pawai,semua bergembira
karena adnya pawai, saya tak mau ikut pawai atau tak mau dengan rencana temanku
karena itu tak ada manfaatnya adanya
mencari masalah dengan Polisi sebab hal itu tidak boleh di lakukan oleh SMP,
tapi jika SMA tak apa katanya si,,.
Semua
kelas rata-rata ikut termasuk kelasku,saya di paksa oleh temanku untuk ikut
pawai dan saya tetap tak mau karena saya takut. Temanku marah karena saya tak
mau ikut dan ia berkata kalu saya tak kompak, jujur saya kecewa dengan
pendengaran itu karena hal tersebut benar-benar salah dan tak baik untuk para
siswa dan siswi. Jikapun tak kompak dalam hal tersebut juga tak apa dan tak ada
masalah tapi jika tak kompak dalam kelompok baru itu tak boleh
Tapi
pada akhirnya saya ikut juga karena saya tak mau temanku marah padaku,tapi saya
tak mau ikut coret-coretan cuman ikut pawainya saja. Temanku senang sekali mendengar saya ikut,
nantinya berkumpul di jalan CANTIAN, jam 08.00, memaki pakain sekolah dan
nantinya berangkat bersama-sama. Saya
takut sekali mengikuti hal itu, karena takutnya di kejar-kejar polisi.
Sayapun berangkat dari rumah sesuia rencana temanku yakni jam 08.00, setelah
sampai di gang CANTIAN sudah banyak anak-anak yang berkumpul.
Semua
teman-temannku mencoreti bajunya masing-masing kecuali saya , tapi na’asnya
baju saya kenak coret dikit oleh teman saya, sayapun langsung menangis di tempat tersebut, dan saya takut
di marahin ibu saya karena bajunya di coret. Saya menjerit untuk mintak pulang
pada teman saya, Tapi teman saya tak mau jika saya pulang, sayapun tak berhenti
menangis dan akhirnya saya pasrah dan tak pulang. Dengan itu semua teman
berangkat mengelilingi sepanjang jalan.
Dan
dugaanku benar polisi mengejarku,dan polisi tersebut tepat di belakangku,
saya gemeteran dan teman saya ngebut agar
bisa menghindari polisi, tapi Alhamdulillah polisi berhenti mengejar kami,
sayapun langsung pulang, dan berfikir hal itu lucu karena temanku di kejar
polisi tertawa bukan tegang, sedangkan saya pucat dan cemas . Saya mintak
pulang dan akhirnya saya pulang dan menenangkan diri di rumah dan mengucapkan
Alhamdulillah sampai rumah.



